Monday, March 25, 2013

(REPOST) H-1 "66th Of Indonesia" 2011

Negeri ini di Jaman Hitam Putih:

Rakyatnya kelaparan bahkan Mati Lemas
Penjajah boleh pergi tapi semua masih Memungut Beras
Jiwa Merdeka, badan masih Letih Terkuras

Tapi ada 'Soekarno dan Hatta'
Yang membawa kepada Jaya

Kemudian mati jua karena sengketa kuasa

Masih Jaman Hitam Putih:

Sampai saat ini aku berpikir ; Orang Tua itu cukup luar biasa
Di MasaNya Aku mengenal Kemakmuran dan Keadilan Merata
Tayangan Televisi masih hitam putih juga tapi cukup memuat berita penuh Suka

Sekalipun aku kadang mengutuk Orde Baru dan muak mengingat rupanya
Aku tak lelah bersyukur, Beliau pernah membangun dan merancang INDONESIA

Sedikit berubah menjadi Merah-Kuning-Hijau:

Negeri ini masih dipimpinNya
Seingatku Petani dan Guru diperlakukan Istimewa
Aparat Negara selalu Jumawa
Kelimpahan dimana-mana walau sambil lalu datang Bencana

Kemudian Warna-warni Masa depan dimulai, MEJIKUHIBINIU:

Si Tua yang kupuja itu berangsur memperlihatkan Taringnya
Suram dimana-mana
Berantakan, kacau-balau, hingar-bingar, membahana
Kuli Tinta, Mahasiswa, bahkan Masyarakat biasa
Mati banyak, tak terkira

Hari ini semuanya jadi MERAH MANYALA, Orange pura-pura, Ungu Mendominasi:

Wajah petinggi gonta-ganti
Mereka menjual janji
Saban Pagi
Hingga petang hari

TAPI;

Rakyatnya ketakutan melangkah pasti
Galau gontai

Ke Tempat yang berlabel 'bank' itu sudah -HARAM-
Memamahbiak makanan pun rakyat bimbang
Sekalipun dibalut bungkusan -HALAL-

---------------------------------------------------------------

Negeri ini Kaya Raya
Manusia rupa Cerita
Cerdas tak terkira
Namun lagi-lagi masalah purba
Basi jika dihirup Aromanya
"Tak ada lagi Percaya"

*Bangsa ini diperkosa oleh anak kandungnya sendiri, yang serakah dan congkak hatinya.
DIA TAK BERDAYA MELAWAN DIRINYA SENDIRI #Cukup Menggelikan sampai bisa membuat dunia Menangis tergelak-gelak... Denpasar, 16 Agustus 2011 - Goa Gong Jimbaran

Dirgahayu Wahai Nusantara 66th

Thursday, February 28, 2013

Untukmu ; NOTES \m/

Beneran yah, nulis tuh butuh dooping, nulis juga butuh mood booster. Seperti sekarang, mood boosternya suara polos kaka tuteh dan petikan gitar kaka noel. Hahahahaha… suara polos e ncim… tapi tulisan ini saya buat bukan karena mau cari muka orang ende bilang tapi lebih kepada emosi yang tak terbendung seperti kata ka noel di awal VCD-nya notes. Karena semua keinginan berkarya sudah tidak terbendung lagi… tapi serius ini tulus, dengan sebatang dunhill berasap saya mau persembahkan ini buat Tokoh Inspirasi NTT terbaru, yang baru saya nobatkan K’Tuteh Pharmantara.

Ini orang sudah tidak tau saya harus sebut dia apa e, Strong and Independent Woman seperti biasa kayanya su tidak pantas lagi. Lebih daripada itu saya memiliki keterbatasan bahasa. Hahaha, jago nulis, jago jalan-jalan, jago nyanyi, jago main gitar, jago ngomong, jago siaran, jago memotivasi, jago memimpin, jago berkreasi dan jago yang lain-lain. Beberapa kali ketemu tanpa kami sadari karena memang belum saling kenal, pertemuan pertama karena waktu itu masih duduk di kelas satu SMA dan pengen belajar Internet. Sejam masih 7ribuan di Warnet rumah Jl. Irian Jaya dan pertemuan2 tak terduga selanjutnya trus akhirnya bisa Kopdar di Nasi Gandul Tuban lalu percakapan mengalir deras tak terbendung. Arghhhhhhhhhhhhh…. Kangen suasana itu lagi bersama Umbu nababan dan Om Bisot juga disana (Member Flobamora Comm. Chapter Sumba dan Jakarta) hahahaha…

Dan sekarang VCD notes nangkring di kamar, sambil mengalun pula kemudian beberapa novel yang belum sempat saya baca karena saking maruknya saya ingin melalap segala bacaan mesti ngantri dulu. Wah Orang Ende tidak jauh beda kok dengan Orang-orang Indonesia lainnya. Bener dah sederhananya begini, tanggalkan segala latar belakang suku, budaya maupun agama. Manusia itu ditentukan dari Bagaimana Pribadi dan kemampuannya! Dan semua anak manusia dengan tau dan mau memiliki tanggung jawab serta keterampilannya mengasah segala yang dia punya. Buat Notes, saya tidak mau berkata muluk dulu akan tetapi dengan telah melakukan yang PALING BISA DILAKUKAN seperti yang telah dikerjakan sudah dimanakah levelnya? _Saya merasa jauh tertinggal benar, Iri akan tetapi terangsang berkompetisi_

Dari semua lagu satu conclusion : Easy listening

Lagu Untukmu – asik, teman saya pertama dengar yang notabene penyanyi juga langsung pengen bikin cover-nya. Hahaha
Lagu CintaCinta - hm… itu musiknya mengingatkan saya pada lagu-lagunya siapa yah jaman 90-an dulu, ada pokoknya
Lagu Falling In Love – seru gokil, bikin pengen ada juga dalam video klipnya. Wkwkkwwk
Lagu Jangan Salahkan Aku – Deuh, itu gua banget dah seturut pengalaman yang ada. Curcol!!!
Lagu Dewi – intro awalnya buat saya teringat instrument2 dayak seperti bunyi petikan sape mana liriknya yang bikin syahdu merinding dan ada bagian tertentu mengingatkan saya pada lagu-lagunya BIP dulu. Uwhhhh……

Dan lagu-lagu lainnya yang saya yakin bakal setia temani saya sejak saat ini.

Go K’T, you are really Big Girl!!! Muachhhh. #K’Noel, bener-bener pencinta Jimi Hendrik yah kayanya. AjibSip dah… \m/

Thursday, December 20, 2012

Membahana di Borneo #OMK \m/

Part IV. Gawai Padi dan Nyora

22 Oktober 2012
Pukul 6 Pagi di Beduai sudah terang benderang, Vera mengajak saya berbelanja di seberang jembatan yang termasuk dalam wilayah Muara Illai. Ada sebuah warung yang menjual kebutuhan seperti Sembako dll. Jika di lihat-lihat Beduai sudah lumayan maju, tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya oleh kawan-kawan yang sudah paranoid karena keseringan nonton Ethnic Runaway di salah satu stasiun televise nasional. Bapak pemilik warung sangat ramah dan mengajak saya bercerita tentang Pulau Bali. Di Muara Illai ini ada seorang Polisi yang berasal dari Karangasem, namanya Pak Made. Wahhh….. kebetulan lagi saudara? :)
Kelar belanja, kami kembali ke rumah untuk bersiap ke sungai. Mandi pagi. Sungai surut pagi ini, jadi kami harus berjalan agak lebih ke dalam untuk berendam. Hutan terlihat hijau segar dan pantulan sinar matahari menembusi dedaunan serta ranting yang mulai mengering. Saya suka pagi! Ada seorang gadis Tanjung Ungan yang sedang mencuci sendirian. Kami pun bergabung bersama dia dan mulai mandi. Selesai mandi kami kembali ke Rumah untuk Sarapan pagi dan menunggu jemputan menuju Gereja. Sepertinya saya telat lagi hari ini. Karena motor yang tersedia cuma satu, kami akhirnya memutuskan boncengan bertiga. Tidak baik. Hahahaha, sampai kemudian Pak Made yang Polisi itu lewat dan menawarkan tumpangan. Dengan senang hati, pak. Di atas motor, kami ngobrol lumayan banyak baik tentang Bali maupun Beduai. Bali dan Beduai. Diawali huruf B dan diakhiri huruf I. ah saya lebay. Hahahaha…
Tiba di Gereja acara Wawanrasa telah dimulai oleh Romo Gaspar. Wawanrasa ini bertujuan memperkenalkan kepada peserta IYD Keuskupan Denpasar bagaimana Agama Katolik berkembang di Pulau Kalimantan dan berintulkurasi dengan kebudayaan Dayak, khususnya Dayak Golik. Dayak Golik berasal dari Sungkung (sekarang masuk wilayah kecamatan Entikong bagian dalam, yang berbatasan langsung dengan serawak Malaysia). Dahulu kala Bangsa Portugis saat pertama kali menginjakan kaki di Kalimantan percaya bahwa Tanah Kalimantan memang telah menjadi tanah pilihan Tuhan dan akan menjadi suku bangsa yang menganut Agama Kristen sepenuhnya karena beberapa Tradisi, Adat Istiadat yang begitu persis dengan Tata cara orang Katolik. Salah satu yang mencolok adalah Tanda salib yang menjadi tanda kemenangan, sejak jaman dahulu para dukun di Kalimantan selalu menggunakan tanda seperti tanda salib ini sebelum mengobati orang yang sakit. Lalu ada kebiasaan menyembuhkan orang sakit dengan memingitnya dalam rumah selama tiga hari tiga malam dengan meletakan daun sabang di depan pintu sebagai symbol bahwa rumah tersebut tidak bisa menerima tamu dalam waktu tiga hari kedepan, sampai tiga hari kemudian orang yang sakit tersebut sehat kembali. Mengingatkan kita akan peristiwa dalam Kitab Suci saat Bangsa Israel akan melarikan diri dari Mesir dan masih banyak hal lain yang menunjukkan keterkaitan antara Agama Katolik dan Tradisi suku Dayak itu sendiri, akan saya tuliskan pada postingan berikutnya (^^)
Siang ini kami semua telah dijanjikan untuk berjalan-jalan ke ladang, mengikuti Tradisi Gawai Anak Padi atau Mendoakan ladang yang baru saja di buka dan di Tanami. Saya patut mengacungkan jempol untuk Masyarakat Kalimantan, karena mereka meletakkan Tuhan begitu tinggi dalam setiap aktivitas dan kerja keras mereka. Di tempat lain sekalipun yang begitu mayoritas, belum tentu masyarakatnya akan melakukan hal seperti ini. Karena daerah yang akan melakukan Gawai Anak Padi pada hari ini hanya Pemodis dan Muara Illai, maka kami dibagi dalam kedua kelompok. Kemudian kedua kelompok itu masing-masing akan di pecah lagi sesuai jumlah ladang yang akan di kunjungi. Satu kelompok akan mendatangi empat sampai tujuh ladang dan letaknya saling berjauhan. Itu artinya kami akan masuk keluar hutan, menyebrangi sungai, melewati hutan karet dan tanaman jarak, rerumputan yang diselingi kelapa sawit serta wangi durian menusuk. Pengalaman ini selalu saya temukan kembali dalam mimpi-mimpi saya semenjak saya kembali dari Beduai. Kicau burungnya yang berbeda, nama dan bentuk buah yang beraneka serta panasnya yang luar biasa menyengat. Gelap hutan yang beradu desiran angin dan percikan air sungai dingin menyegarkan. Betapa Kayanya Indonesia, di hadiahkan Tuhan cuma-cuma. Selama perjalanan ini kami di jamu oleh Tuan Ladang dengan berbagai macam makanan dan yang pasti Tuak tak ketinggalan. Saya begitu bersemangat dan kalap. Hahahaha. Selesai bergawai padi, Kami dikumpulkan di Balai Adat . Kelompok kami melewati empat ladang saja karena letaknya yang sangat berjauhan sehingga waktu seharian tidak cukup. Disana telah menanti Nyora Mini, alias makan bersama dengan segenap makanan rumah yang telah disediakan oleh Masyarakat setempat. Silahkan memilih, ada ayam goreng, opor ayam, ayam bakar, sayuran, jajanan bermacam-macam, tetapi kenapa saya lebih memilih menghabiskan tuak sampai sempoyongan. Serius, saya kekenyangan dan pening. Kami bergembira, menari dan tertawa hingga waktu menjelang sore. Kami harus ke gereja, karena pukul 5 sebentar lagi tiba. Misa penutup dan Maxi Nyora akan berlangsung malam ini karena besok kami akan bertolak ke Sanggau. Seperti ada sesuatu yang mengiris dada saat itu, jika saja saya bisa lebih lama disini. Tidak lama waktu istirahat yang saya miliki setibanya di rumah, kami langsung ke Sungai dan mandi lalu berangkat ke Gereja. Kepala saya sakit sekali.
Gereja Salib Suci Beduai, senja itu ramai total. Seluruh umat sepertinya berkumpul disini. Misa penutup dipimpin oleh Romo Patris selaku pastor paroki beserta konselebran Rm. Eman, Rm. Robert, Rm. Yomi dan Rm. Gaspar yang terlihat oleng dan ngantuk diatas altar. Hahahaha… ah ini tidak akan terulang. Misa berlangsung khidmat dan lagi-lagi Emon dan kawan-kawan mempersembahkan suguhan nyanyian, tarian dan musik yang begitu kreativ dan menyengat telinga. Saya tidak peduli seberapa banyak mata memandang ketika saya berlari dan memilih berdiri tepat di hadapan para pemain musik demi menyaksikan perpaduan yang menggetarkan ini. Drum, simbal, bambu, Gong, …… dan Lelaki Dayak yang sedang membawa Mandau melompat gemulai menghunjukan persembahan kedepan altar. Mata ini, telinga ini akan menjadi lebih peka saat kembali nanti.
Selepas misa, kami semua berkumpul di Aula Paroki SSB. Kami akan Mengikuti NYORA. Tradisi Makan bersama masyarakat Beduai. Tidak ada prasmanan ………………………..(ambil dari FB). Pada malam ini juga kami mempersembahkan Tarian dan Lagu Janger yang sudah kami siapkan sejak sebulan lalu untuk Teman-teman OMK dan Masyarakat Beduai. Riuh tepuk tangan dan sorak gembira mereka adalah apreasiasi yang melegahkan yang dibalas ucapan Terima Kasih kami karena telah menerima, melayani dan mau mengenang kami di Beduai. Malam panjang itu serasa tak ingin di akhiri. Saling memberikan kenang-kenangan, souvenir, dan kesan pesan yang disertai air mata ketidakikhlasan bahwasannya kami sungguh hanya memiliki dua hari berharga di tempat ini dengan segala cerita dan peristiwa menyenangkan tak terlupakan. Malam itu saya terduduk di toilet rumah dengan perasaan kacau balau. Bukan karena ingin membuang hajat tetapi saya terduduk karena pening kepala tak lekas pergi dan tanpa saya sadari saya menangis. Menangisi waktu, yang kadang leluasa memberi segalanya terjadi kemudian mengambilnya dengan sigap tepat ketika semuanya baru saja di mulai. Saya akan merindukan tempat ini sambil bersamaan dengan itu membencinya karena tidak semudah yang saya bayangkan akan kembali lagi ke Beduai.

Budaya Tradisi Sebagai Jati Diri

Usia saya mendekati seperempat abad, ketika saya mulai melihat dunia dari sisi yang disebut Tradisi, Kebudayaan, Sejarah dan Alam. Dulunya, saya belum cukup menyadari bahwa saya sungguh tulus tertarik pada hal ini. Terkadang ragu-ragu saat menguping Ibu yang sedang merapalkan doa dalam bahasa Ibu (Bahasa daerah Ende-Lio, red), di daerah saya hal ini disebut “sua sasa” seperti mendoakan keselamatan jiwa orang-orang yang kita sayangi dalam sebentuk syair yang lumayan panjang dan be-rima. Catat : tanpa teks. Itu alamiah. Dan Ibu saya sendiri mengaku, beliau tidak pernah mempelajari khusus semua mantra-mantra tersebut kecuali selalu menyimak dengan seksama saat Nenek melakukan hal yang sama di masa Ibu beranjak dewasa seperti saya. Hal lain yang membuat saya merasa terganggu adalah membuktikan makanan yang dinamakan sesajen itu sungguh-sungguh menjadi dingin setelah di diletakkan dan didoakan. Jadi ini seperti riset , saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar dan Kakek meninggal dunia. Saya cukup sedih meskipun belum paham arti kehilangan yang sesungguhnya. Kemudian Ibu melakukan kebiasaan ini selama kurang lebih 40 hari setelah kakek meninggal. Apapun bentuk makanan yang Ibu masak hari itu, istimewa atau biasa saja. Beliau akan menyisihkannya untuk Kakek (Ibu melakukan ini juga saat ada perayaan di rumah atau hari raya tertentu. Bukan hanya untuk Kakek tetapi untuk para leluhur yang telah meninggal baik dari keluarga ayah maupun keluarga Ibu), informasi ini membuat saya penasaran karena sesuai akal sehat anak seusia saya saat itu “Bagaimana cara kakek akan memakannya? Sementara jasadnya telah dilapisi semen dan marmer biru disamping rumah..hm,,,” lagipula porsi yang Ibu sediakan untuk Kakek sungguh tidak masuk akal, nasi dan daging atau sayuran itu dipisah-pisah diletakkan pada piring kecil-kecil kemudian segelas kecil arak. Yah Kakek saya kadang suka menenggak arak sebagai tradisi atau juga karena Kakek menyukainya tapi apakah isi seloki kecil itu tidak akan cukup lama mengalir di tenggorokannya? Apa-apaan Ibu ini. Sampai akhirnya Ibu mengajak saya bersama-sama duduk, memasang sebatang lilin dan bersama-sama mendaraskan doa. Hanya Ibu yang berkata-kata sementara saya terdiam dan mendengarkan Beliau mengucapkan kata demi kata dalam bahasa daerah yang saya pahami sebagai ajakan agar Kakek datang dan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Selesai berdoa, Ibu menyuruh saya menunggu disitu selama yang saya bisa.

Kata Ibu,” kalau sudah 30 menit kau raba makanannya. Jika sudah terasa sangat dingin baru boleh kau bereskan, boleh juga kalau kau mau menghabiskan. Berbagilah dengan adikmu.”

Dan saya sungguh menantikan makanan tersebut selama kurang lebih 30 menit sambil terus melirik pada jam dinding dengan perhitungan yang kasar. Setelah merasa yakin 30 menit sudah terlewati saya mendekati makanan itu dan menyentuhnya dengan jari. Luar biasa, dinginnya makanan itu tidak normal sebagaimana suhu di ruangan ini. Ditambah lagi musim dingin tidak sedang berlangsung, darimana rasa dingin itu datang? Saya duduk didepannya sejak tadi, tak ada seorangpun yang menumpukkan es disamping atau dibawah piring-piring tersebut sehingga makanan itu menjadi luar biasa dinginnya. Saya menghampiri Ibu dan menceritakan yang hinggap di kepala saya saat itu. Penjelasan Ibu saya terima dengan akal seorang anak saat itu dan hingga kini saya menyimpannya dengan baik. Terkadang ada hal yang tidak bisa dijelaskan dan harus kamu pahami dari dunia ini.

Kata Ibu, “kalau sudah dingin sekali artinya Kakek sudah datang dan makan makanan itu, orang mati memiliki caranya sendiri untuk menikmati sajian kita.”
Hingga setelah tamat SMU saya harus melanjutkan pendidikkan saya ke jenjang selanjutnya di Pulau Seribu Pura, Bali. Di pulau ini masyarakatnya akan menaruh canang yang dipercaya sebagai sesajen bagi para leluhur dan penjaga tanah ini setiap tiga jam sekali. Lebih sering dari yang Ibu lakukan di rumah. Saya yakin di Nusantara yang luas nan beragam serta kaya raya ini, para penghuninya memilik cara masing-masing untuk menghormati NENEK MOYANG mereka.

Itu jejak awal, saat dimana saya perlahan memahami ketertarikan ini justru menjadi magnet berkala yang terus membawa saya pada pengalaman-pengalaman hidup selanjutnya dan memastikan Siapa saya. Jati diri saya sebagai orang Indonesia yang memiliki Budaya dan Tradisi.

Entah Siapa Nenek Moyang-ku yang pasti bukan pelaut karena Dusun Ayah saya maupun Ibu Saya terletak di pegunungan. Tetapi saya mensyukurinya, sesering mungkin saya ke kampung agar bisa menikmati alam liarnya yang rupawan dan masih jauh dari sentuhan manusia (Kami tinggal di kota kabupaten). Karena topografi yang sudah sering saya jelajahi sejak kecil itu, saya kadang rindu pulang ke kampung dan menjelajahi semua kenangan lama. Karena di tanah orang ini, daerah-daerah perbukitan seperti dalam bayangan saya itu terletak sangat jauh. Pemerintah lebih senang membangun pusat kota pada daratan yang rata dan luas, sehingga mempermudah segala akses. Agar bisa menikmati pegunungan, pepohonan dan rimba raya, lautan dan hujan yang nyata, Matahari, Bulan Bintang yang serupa cermin cahaya, saya harus berjalan sangat jauh. Ada benarnya ungkapan bahwa untuk mendapatkan hasil yang luar biasa, engkau harus melewati proses yang sesuai. Jika tidak kepuasanmu hanya semu belaka.

Saya tidak akan menyalahkan para entrepreneur atau pengusaha real estate yang menjamur dan pelan-pelan menyingkirkan semua hal yang tampak sempurna sebelumnya. Di pikiran mereka, mungkin apa yang mereka lakukan adalah menyempurnakan kemajuan bangsa dan negara ini. Namun bagaimana dengan habitat, bagaimana dengan para penghuni setempat, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat akan tetapi terus didoakan?
Saya tidak akan menyalahkan pemerintah bangsa ini juga, yang sering saya pikir menjadikan nasionalisme sebagai alasan untuk cepat menjadi kaya. Semakin banyak media yang sinis dan menyindir perilaku mereka yang diam-diam menghanyutkan, semakin lihai juga mereka menemukan cara supaya bangsa ini hancur terpuruk. Itu kelakuan dan dosa turunan, dari jaman penguasa yang lalu.

Dan saya juga cukup lapang dada menerima nasib, saat melihat bangsa serumpun mengklaim beberapa harta warisan nenek moyang yang seharusnya menjadi milik negara tercinta ini justru di copy-paste sama persis sebagai kepunyaan mereka. Sakit memang, menangis sendiri pun takkan merubah apa yang sudah terjadi. Malah saat saya berkoar-koar dan memaki, saya akan tampak lebih buruk di mata mereka.
“Kemana saja kau selama ini, tidur? Mending ada yang mau ngaku dan lestarikan, setidaknya MASIH ADA DAN TERPELIHARA.”

Mengapa Nasionalisme selalu muncul saat ada yang mengusik, mengapa Nasionalisme tidak tumbuh secara alamiah dan mendarah daging setiap hari di pikiran dan hati penghuni negeri ini?

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mewujudkan nasionalismenya, tergantung juga pada latar belakang hidupnya, ketertarikannya, kecintaannya pada bangsa ini. TALENTANYA.

Bermula dari apa yang bisa dia lakukan, hal kecil sekalipun! Sederhana. Pernah sekali waktu karena cukup frustrasi dengan kondisi negeri ini, saya kemudian menulis sebuah puisi prosa yang entahlah hanya rentetan putus asa (Puisi Prosa-nya ada di blog sy). Tetapi saya bukanlah saya, seorang Putri Pertiwi bangsa ini jika saya tidak memiliki harapan dan kebenaran yang saya pikul sendiri. Maka mulailah saya beranjak dari hal yang biasa saja. Seperti menulis puisi tentang Alam Indonesia, menghimbau dan mengajak orang-orang terdekat untuk datang pada Pameran atau Pentas Budaya yang sedang diselenggarakan melalui jejaringan sosial yang marak digunakan belakangan ini. Setidaknya dinding teman-teman saya bukan cuma dipenuhi curhatan dan iklan online shop sebagaimana biasanya. Darimanapun pentas Budaya tersebut berasal, Sumatera, Papua, Kalimantan atau Sulawesi. Itu Indonesia! Titik.

Memprakarsai kegiatan bersama kawan-kawan Komunitas, seperti Seminar Sejarah, Seni dan Budaya juga salah satu cara. Mengadakan kegiatan berkunjung ke Museum Budaya yang bisa diselingi dengan outbound dan bersepeda keliling kampung ubud, sebagaimana marak yang sedang terjadi saat ini. Istilah kerennya “Gowes”. Di Denpasar, saya tergabung dalam Komunitas Pemuda Lintas Agama. Ini seperti organisasi muda mudi yang tergabung dari beberapa Agama yang terdapat di Denpasar. Kami tidak memiliki masa yang mumpuni untuk mengadakan kegiatan luar biasa bahkan didalamnya terdapat adik-adik yang masih duduk di bangku SMU yang kadang-kadang membuat saya iri dengan semangat dan motivasi mereka berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Akan tetapi sudah dua tahun kami sukses mengadakan Perayaan Sumpah Pemuda bersama, didalamnya terdapat banyak rangkaian acara. Seperti diskusi dan pentas budaya bersama yang bisa menjaring dan memotivasi kawan-kawan pemuda dan pemudi Indonesia dan di Denpasar khususnya agar terus memperhatikan Budaya Tradisi Bangsa ini.

Batik, telah di sahkan UNESCO sebagai karya dan harta milik Bangsa Indonesia. Mengapa kita menunggu di akui saat kita memiliki kesempatan mengeksplorasi kerajinan tangan warisan nenek moyang kita. Masih ada tenun ikat Nusa tenggara, Ulos dari Batak, Songket dari Sumatera dan masih banyak lagi kerajinan tangan Indonesia yang bisa kita kombinasikan dalam kehidupan keseharian kita.

Memanfaatkan teknologi, juga cara yang bisa dilakukan saat ini. Jika dulu Buku adalah Jendela Dunia maka sekarang Internet adalah Surga dunia. Surga kesekian! Surga dimana bisa kau temukan berbagai macam Ilmu Pengetahuan dan wawasan baru tentang Indonesia-mu. Gambar-gambar yang bahkan telah di posting secara berkala dengan jurnal menarik yang bisa kau baca kapanpun kau mau. Isinya tentang Objek Wisata ini, Tradisi dari daerah ini, dan bermacam-macam hal unik menarik yang tidak akan pernah dapat kau bayangkan sebelumnya. Hebatnya, semua itu di Indonesia. MILIKMU, MILIK KITA SEMUA yang harus dijaga, dipertahankan dari klaim-an bangsa lain. Tidak taukah kau, nenek moyang kita menghasilkan peradaban ini jauh sebelumnya dengan susah payah dan yang kau lakukan adalah MENJAGANYA. Meskipun mendapatkan jauh lebih sulit daripada mempertahankan.

Berbicara dan memikirkan Budaya, berbicara dan memikirkan “siapa saya, siapa kamu,siapa kita?” “ada dimana saya, darimana saya berasal” sederhana sebagaimana pertama kita berjumpa dengan kenalan baru. Hal pertama yang akan ditanyakan adalah identitas pribadi kita, ini berlaku di belahan dunia manapun.

“Hai, siapa namamu?”

“Darimana asalmu? Oh Indonesia, bukankah disana orangnya ramah-ramah? Budayanya kaya dan luar biasa. Ada tari saman, tari pendet, tari reog dan macam-macam. Ada Borobudur, Komodo, Danau Kelimutu, dan Raja Ampat? Ada Pulau Bali yang indah menawan berpasir putih. Bahkan tongkat kayu dan batu jadi tanaman di Indonesia?”

Teringat petikan lagu Rayuan Pulau Kelapa, Pulau Melati nan amat subur sejak dulu kala. Dari pesisir hingga bukit berundak, dari lembah sampai ngarai berderai-derai sungai dan lautan.

Itulah arti seni dan budaya tradisi bagi kita saat ini. Sebuah identitas yang patut dipertahankan dan dibanggakan. Melekat erat seperti organ tubuh lainnya di tubuh dan isi kepala masing-masing kita warga Negara Indonesia.

Bukankah kita akan tersenyum bangga penuh kepuasan saat anak cucu kita beranjak dewasa dan bisa melafalkan bahasa daerahnya masing-masing namun tetap menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam lingkungan pergaulannya. Mereka tidak akan kebingungan menempatkan diri sebagai Anak Indonesia dimana pun mereka berada di jaman yang justru menuntut mereka harus memilih mungkin mesti meninggalkan budaya dan tradisi yang sudah mereka lewati sejak masa kanak-kanak, karena di darah dan tulang mereka telah terpatri nyata Merah Putih. Dan para tetua pun tak perlu merasa terancam bahwa sejarah budaya dan tradisinya akan punah perlahan sebab identitas negeri ini telah aman terjaga dalam genggaman generasi yang tepat.

Kita semua datang dari Budaya dan Tradisi yang sangat primitif, sejak jaman leluhur nenek moyang. Untuk bisa mewujudkan kebudayaan nasional dimana seluruh masyarakat Indonesia memiliki kesadaran sepenuhnya dibutuhkan dukungan dari segala komponen nusantara. Kekayaan-kekayaan kebudayaan daerah merupakan akar dari kekayaan-kekayaan kebudayaan nasional. Sekalipun Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan etnis serta kemajemukan penduduknya tetapi sejak jaman Majapahit telah ditanamkan semangat “Bhineka Tunggal Ika” oleh Patih Gajah Mada yang kemudian misi ini dilanjutkan oleh Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno pada masa pemerintahannya. Beliau mengajak seluruh raja-raja dari seluruh pelosok Nusantara untuk duduk bersama dan berbicara kemudian mempersatukannya menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena “Biar berbeda-beda tetapi kita adalah satu tumpah darah, tanah Indonesia. Satu Bangsa, Bangsa Indonesia. Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.” Iklan makanan nomor satu di Indonesia pun mengakuinya, betapa luas dan kayanya Indonesia. Beraneka ragam, dari Sabang sampai Merauke dari Mianggas sampai pulau Rote. Itulah mengapa Budaya dan Tradisi HARUS LESTARI :)

Wednesday, December 12, 2012

Membahana di Borneo #OMK \m/

PART III. Welcome to BEDUAI

21 Oktober 2012
Pagi sendu di Batang Tarang, belum banyak aktivitas terjadi. Mario sempat merekam moment saat kawan-kawan masih terbuai mimpi karena kelelahan. Ada yang mulai terjaga dan terburu-buru mencari kamar kecil. Dan saya, termenung menatap sejurus pada langit dan alam sekitarnya. Masih mendung dan lembab, rerumputan segar hijau. Pastor paroki datang dan menyarankan kami untuk membersihkan diri karena sarapan pagi akan disiapkan. Dibelakang sana ada sungai jika kalian ingin mandi. Waow, SUNGAI! Hm… tapi akibat hujan semalam, sungai tersebut Nampak sangat kecokelatan serupa lumpur, selera berendam saya pun hilang apalagi semua peralatan dan perlengkapan saya masih berada di bagasi Damri yang mogok. Saya pun lebih memilih menjelajahi tepian sungai yang juga ditanami jagung. Dekat dengan sungai tersebut terdapat sebuah Gua Maria yang sedikit tidak terurus. Saat itu saya pergi bersama Galih (OMK Mataram), kami berdiam di Gua kurang lebih sangat lama (hahahaha…) tentu saja untuk menyapa dan berngobrol ria dengan Ibunda Maria Tercinta. Dan kesimpulan akhirnya, Kami tidak jadi mandi melainkan cuci muka serta menyikat gigi dengan Aqua saja lalu bergabung bersama kawan-kawan dari Purwekerto untuk Sarapan pagi. Dan sejak semalam saya tidak menemukan cabe atau sambal disini. Ada apa yah???? Makanan terasa dua kali lebih manis ditambah rupa saya yang memang sudah aduhaii belum mandi seharian. Huahahahha…
Khabar baik datang bersama dengan kehadiran Wina, Damri pengganti yang akan membawa kami ke Beduai sudah tiba. Kami boleh mengambil bagasi masing-masing dan menaiki Damri penyelamat tersebut. Semua siap, anggota lengkap, doa pengantar perjalanan sudah terungkap dari Rm. Eman sebagai pemimpin dan kami pun kepakan sayap alias terbang melaju menuju Beduai melewati ribuan batang-batang pohon kelapa sawit, tanah rawa, ladang yang dibakar sebelumnya untuk dipakai menanam lagi dan banyak pemandangan lainnya.

Fenomena Kursi Plastik
Ini adalah lelucon paling menarik selama perjalanan menuju Beduai. Terdapat beberapa kawan yang berdesak-desakan dan harus berdiri dalam Damri karena kekurangan tempat duduk termasuk saya. Sekitar 30 menit kami bertahan dan masih berusaha bertahan ketika tiba-tiba pak supir berhenti dan bertanya : berapa orang yang berdiri. Yang pasti ada 4 orang lah, karena kapasitas Damri ini untuk 40 orang penumpang dewasa. Kami berhenti di sebuah RM. Padang (saya lupa di daerah mana tepatnya) kemudian sang kernet turun dan mengambil susunan kursi plastik berjumlah 4 buah kemudian dinaikan ke atas Damri. Diletakanlah kursi tersebut pada lorong antara kursi penumpang dan luar biasa ukuran lorong tersebut cukup untuk empat kursi yang kami jejali. Dan fenomena ini tercatat lagi dalam sejarah perjalanan kami, pertama kalinya dalam hidup saya duduk diatas kursi plastik di dalam Damri di Pulau Kalimantan. Hahahaha, salah satu video rekaman Mario berhasil menjadikan moment ini sangat lucu karena ada Uskup Mgr. Heldy Ardiansyah (OMK St. Yosep Kepundung) yang membawakan Khotbah Kasih itu Sabar melalui Kursi Plastik titisan Tuhan. Huahahahaha….

Beduai~Dari sebuah cerita menjadi sebuah kenangan semata

Pancung Bulu Muda*
Jam menunjukkan pukul 11 siang Waktu Beduai tentu saja, Damri kami tiba dan berhenti tepat di depan Paroki Salib Suci Beduai. Tak terhingga banyaknya mereka yang menanti, tak terkira harubiru hati ini. Sebegini hebatnyakah kami sehingga dinanti semalaman sampai seharian ini? Ataukah tulus hati merpati memang menghuni hati orang-orang Beduai. Kami digiring santai menuju pelataran gereja dan di sambut dengan sebuah acara yang diberi label “Pancung Bulu Muda”
Acara ini antara lain diawali dengan pengalungan bunga kepada tiga perwakilan kontingen yaitu Ketua Rombongan diwakili Rm. Yomi, Peserta Laki-laki diwakili Frans dan peserta perempuan diwakili Lisa. Dilanjutkan dengan sapaan dan doa dalam bahasa daerah setempat yang dilakukan oleh seorang tetua adat. Kemudian percikan air dengan menggunakan daun Sabang sebagai symbol penerimaan dan kami semua dipersilahkan meminum Tuak yang telah disediakan dalam bulu muda (bambu muda yang berbentuk kecil yang biasa digunakan untuk membuat seruling bambu tapi yang ini jauh lebih kecil) masing-masing kami mendapatkan satu. Aduhai, betapa saya suka tradisi ini. Hahahahaha…. Setelah itu salah satu perwakilan dari kontingen kami yaitu Romo Yomi yang didaulat untuk memancung bulu muda alias memotong sebuah bambu hijau panjang yang masih dipasang melintang di hadapan kami lalu menginjak telur di atas piring berisi air hingga pecah. Filosofinya : bambu tersebut adalah pembatas antara kami dan masyarakat setempat karena kami adalah pendatang. Saat bambu tersebut di potong, maka hilanglah pembatas antara kami. Kami semua tidak lebih, tidak kurang adalah sama sekarang. Keluarga besar.

Misa Pembukaan dan Perkenalan*
Acara dilanjutkan dengan Misa Pembukaan. Di iringi tarian dayak kami dibawa masuk ke dalam gereja. Dan astaganaga Indonesia, KAYA BETUL! Saya mungkin selama ini hanya membolakbalik lembaran dua ribuan dengan rasa penasaran. Seperti apa tarian dayak itu? Dan sekarang, dari pantulan mata saya melambai-lambai tangan para penari dengan gemulai yang membahana sampai-sampai senyum saya tak putus memberi luapan kegembiraan. Petugas Liturgi adalah kawan-kawan OMK Salib Suci Beduai. Yang saya sukai dari Pasukan Koor anak-anak Beduai ini adalah, Kreativitas bermusik yang heboh. Bayangkan saat Gong dipadukan drum dan bambu lalu keyboard. Kaya dan mahal hasilnya, teman! Khotbah Romo Gaspar selaku pemimpin misa hari itu membawa kami pada refleksi yang dalam. Allah memberikan diriNya kepadamu dalam Yesus dan Yesus telah melakukan segala sesuatu diluar pikiran manusia. Kita adalah cerminan kehadiran Tuhan untuk menebus dan menyelamatkan dunia ini. Tuhan memberikan banyak, memberikan dunia, gereja dan masyarakat ini kedalam kiprahmu, di dalam hatimu dan Tuhan mengharapkan banyak kepadamu. Amin Romo.
Selesai Misa Pembukaan, acara perkenalan. Perkenalan pertama datang dari Pastor Paroki setempat. Adalah Romo Patrisius Dua Witi, CP selaku Pastor Paroki Salib Suci Beduai dan Romo Gaspar Lengary, CP sebagai Pastor Pembantu. Paroki beduai terdiri dari 22 Stasi yang tersebar di sepanjang Kecamatan Beduai. Lokasi Live in kami akan dibagi kedalam tiga wilayah yang tersebar di sepanjang jalan raya propinsi yaitu Stasi Pemodis, Stasi Tanjung Ungan dan Stasi Muara Illai. Hanya membutuhkan waktu satu jam dari Beduai menuju Serawak-Malaysia dan dua jam menuju pusat pemerintahan di Kabupaten Sanggau.
Berikut adalah perkenalan dari Peserta IYD Kontingen Keuskupan Denpasar. Dengan wajah penuh kantuk dan dekil karena belum mandi sejak kemarin kami mencoba tebal muka dan maju satu persatu untuk memperkenalkan diri. Gila, sampai didepan langsung hilang seketika kantuk ini. Manusianya segini banyak sampai menyempil diluar karena terlalu penuh didalam gereja. Tuhan maha besar.
Selesai upacara di gereja kami di undang ke Ruang Pembinaan atau Aula Paroki SSB. Disini kami akan tau siapa orang tua angkat kami selama di Beduai. Tetapi sebelum dibagikan rumah, kami di ajak bersenda gurau dahulu dengan kawan-kawan OMK SSB. Pada kesempatan ini kami dikenalkan dengan lagu paling keren selama di Beduai “…Adil Katalino Bacuramin Ka' Saruga. Basengat Ka' Jubata... lagu ini diciptakan oleh Wakil Bupati Kabupaten Sanggau yang juga adalah Ketua Panitia Lokal IYD 2012. Keren kan??? Hehehehe… setelah performance dari kawan-kawan SSB, kami diminta unjuk gigi juga. Dengan kekuatan tersisa kami pun tak mau kalah. Lagu Kasih Yesus dengan gerakannya yang nyentrik serta Jingle OMK Keuskupan Denpasar kami nyanyikan. Setelah ramah-tamah selesai, saatnya kami dibagikan rumah 

Keluarga saya di Tanjung Ungan*
Namanya Vera, anak dari Bapak Andreas dan Ibu Samina ini menjadi Wali saya saat menerima saya sebagai anak angkat di Aula Paroki SSB. Putri ketiga dari Empat bersaudara ini menamatkan SMUnya dua tahun lalu, sangat pandai membawa diri, dan tentu saja menarik. Saya dibawa pulang ke rumahya saat itu juga setelah nama saya dipanggil dan Vera ditunjuk sebagai wali saya. Rumah Vera terletak di stasi Tanjung Ungan. Sekitar 15KM dari Gereja SSB, itu artinya kami harus menggunakan kendaraan. Diboncengi teman Vera yang bernama Eva Karena Vera diboncengi Pacarnya, kami menuju Rumah Vera. Tiba di Rumah, sudah menanti sekeluarga. Ada Bapak Andreas, Mama Samina dan Saudara perempuan dari Bapak Andreas ada pula keponakan Bapa Andreas yang datang dari kampung karena ada sedikit urusan. Saya di dudukan di antara mereka, sementara Vera membawa masuk tas pakaian saya ke dalam kamar yang akan saya tempati. Rumah panggung kayu ini sederhana dan nyaman. Saya langsung betah! Gak tau malu, hahahaha. Duduk lesehan dihadapan makanan yang beraneka ragam dan belum pernah saya lihat itu memang sedikit ajaib karena saya terkenal lapar mata. Okeh ada Lemang yaitu beras ketan putih yang di bakar didalam irisan bambu (seperti bahan gedek bambunya), kalau dikasih santan namanya akan sedikit berbeda menjadi bangkak. Ada bangkak bujang dan bangkak solong. Ada pisang goreng, ada teh hangat dan ada TUAK atau ARAK BERAS tak tanggung-tanggung disuguhkan dua botol sekalian. Dipersilahkan menuangkan duluan, saya yang sudah sering minum karena tradisi di Flores juga kurang lebih sama malah menuangkannya segelas penuh yang akhirnya ditertawakan pacar Vera. “Sanggup habiskan?” Tanyanya. “Harusnya dikit-dikit biar gak pusing..” Hm.. gitu yah. Saya bagikan dengannya kemudian dengan wajah bersemu merah. Ketahuan doyan. Huahahaha. Banyak bercerita dengan Bapak, Mama dan Saudara perempuan Bapak juga Fajar (Pacar Vera) sebelum kejadian ini berlangsung. Jadi keponakan Bapak yang tadi ikut duduk bersama, tiba-tiba hendak pamit karena ada urusan lagi. Dia kemudian menyentuh semua makanan yang ada lalu menaruh tangannya di dada dan permisi pergi. Melihat kebingungan saya, Saudara Perempuan Bapak langsung menjelaskan. Itu tadi namanya Pulopas atau Cempalek. Tradisi pamit terhadapa makanan yang ada agar saat di jalan tidak mendapatkan celaka. Dahulu, jika tradisi ini tidak dijalankan maka saat di jalan setan akan merasa Pusam artinya dia boleh mengisap darahmu karena kamu sudah berlaku kurang ajar terhadap orang tua dan makanan. Waow…. Pelajaran : Jangan tinggalkan makanan saat masih terhampar di atas meja begitu saja, makanan tersebut akan merasa malang dan ditinggalkan serta tidak dibutuhkan lagi. Mungkin saja dia akan bekerjasama dengan setan-setan sekitar untuk memberimu pelajaran. Alam memiliki caranya sendiri. Hahahaha… Filosofi saya berlebihan.

Suasana kekeluargaan dan keramahan ini harus saya tinggalkan karena Vera sudah menyiapkan makan siang. Meski dengan perut yang kekenyangan, saya tetap harus menghargai Vera yang sudah menyiapkan semuanya untuk saya. Kami makan bertiga dengan tetangga Vera yang membantunya masak namanya aster, tak ada lagi waktu istirahat karena kegiatan berikutnya menanti. Selesai makan, saya istirahat sejenak lalu bersama Vera menyebrangi jalan menuju sungai. Mandi!
Pengalaman pertama mandi di sungai adalah saya sedikit ragu karena airnya yang kecokelatan dan hanya memakai sarung. Dalam nama Yesus, Aman! Hahahaha… air yang sejuk dan suasana hutan yang tenang justru menghilangkan kekhawatiran saya yang tadi sangat kuat mengganggu. Ritual mandi berlangsung lancar dan persiapan menuju gereja. Tiba di Gereja, doa akan segera di mulai. Doa Taize ini dipimpin oleh Romo Gaspar. Dikemas menjadi sebuah doa dengan perenungan yang dalam tentang refleksi perjalanan hidup sebagai Orang Muda Katolik. Selama satu setengah jam kami dibawa kedalam suasana yang khidmat. Selesai berdoa, Romo Gaspar menyampaikan susunan acara untuk hari berikutnya dan diharapkan para peserta tetap disiplin menjalankan kegiatan sesuai jadwal yang telah dibagikan. Kami dipersilahkan kembali ke Rumah masing-masing untuk beristirahat dan menyiapkan diri menyambut hari besok.
Saya dan Vera tidak langsung ke rumah karena di undang makan malam oleh Kakak Sepupu Vera Kak Yanto Yang adalah Pegawai Kementrian Agama Kabupaten Sanggau dan saat ini tengah bertugas mengajar di SMP Beduai. Kak Yanto adalah teman berdiskusi yang hangat, setelah melewati perbincangan yang panjang saya akhirnya tau kalau beliau dulunya adalah kawan sekelas Rm. Kadek (Paroki St. Immaculata Mataram) di Seminari Tinggi Duta Wacana Malang. Ini Kebetulan yang macam apalagi saya bingung, yang pasti saking senangnya saya tidak berhenti nyerocos. Hahahaha. Kami melewati makan malam yang menyenangkan dengan daging babi kampung (istilah orang sana,tak ada lemak sedikitpun) yang lezat tentu saja. Di Beduai, masyarakatnya suka mengkonsumsi Rebung (pucuk bambu), sawi ladang yang lebih sempit daunnya dan terasa sedikit masam saat di tumis, tunas jagung yang masih sangat muda ditumis campur dengan timun ladang (buahnya sedikit berbeda, lebih kecil) lalu ada pucuk daun singkong yang direbus bersamaan dengan batangnya kemudian di luruh sendiri saat akan di makan. Pengetahuan kuliner baru ini membuat saya merasa lebih kaya lagi sebagai orang Indonesia. Selesai makan malam, karena waktu sudah sangat larut saya dan Vera pun pamit kembali ke Rumah dan tak lupa berterima kasih atas makan malam yang enak dan obrolannya yang sengit :)

Wednesday, December 5, 2012

Membahana di Borneo #OMK \m/

PART II. Hari Keberangkatan :)

Hari telah dimulai lagi, Sabtu yang hangat ketika saya menuju Kos untuk mempersiapkan keberangkatan setelah semalaman menjaga teman saya di RS. Sanglah yang baru saja menyelesaikan operasi usus buntu. Sedikit terburu-buru dan mecoba mengingat kebutuhan yang belum ada, saya kemudian di antar adik saya menuju keuskupan. Tiba di keuskupan, sudah banyak kawan-kawan peserta yang datang sambil menenteng bagasi masing-masing. Sebagai koordinator kontingen saya mesti mengecheck perlengkapan lain seperti barang-barang pameran dan jaket yang belum dibagikan. Beberapa barang masih saya tinggalkan di Kos dan salib IYD masih ditinggalkan di Ruang Sekretariat OMK PRKKD, maka saya harus mengambilnya kembali. Dengan bantuan Andi (Tangeb) dan Rio (kuta) kami mencuri waktu sebentar untuk membawa semua perlengkapan tersebut ke Keuskupan. Jaket telah dibagikan meski dengan sedikit insiden karena adanya perbedaan ukuran dan kekurangan jumlah. Kontingen keuskupan Denpasar berangkat setelah didoakan dan dilepas Bapa Uskup sendiri. Ada tiga mobil yang mengantarkan kami menuju Bandara Ngurah Rai.
Tiba di Bandara, kami berkumpul dahulu tepat di depan pintu masuk untuk membagikan boarding pass dan melaju menuju loket Check In Garuda Airlines. Menggunakan GA470 kami akan berangkat menuju Jakarta terlebih dahulu dan untuk selanjutnya GA 508 akan mengantarkan kami ke Pontianak. Butuh satu jam untuk check in seluruh peserta kemudian menuju Pintu 16 lalu naik ke pesawat. Kami meninggalkan Bali.
Tiba di Jakarta, udara lebih gerah meski matahari tak nampak jelas di ubun-ubun. Keramaian Bandara International Soekarno Hatta membuat orang seperti saya menjadi pening dan jengah, karena saya tidak terlalu menyukai keramaian. Waktu transit kami lumayan lama, kurang lebih lima jam. Bingung harus menghabiskannya dengan melakukan apa, kemudian ada SMS dari kawan lama yang kebetulan menetap di Jakarta dan mengajak ketemu. Namanya Monic, OMK Mataram. Masa menanti itu kami habiskan dengan makan dan ngobrol, seluruh peserta kontingen di jamu oleh K’Hiro dan Romo Komkep di RM. Solaria. Ada yang menarik dari Restaurant ini. Design ruangannya yang unik, seperti campuran ethnic Jawa dan gaya minimalis modern. Ada satu dinding yang dilapisi bungkusan kain bercorak batik. Saat membayangkan tahap pengerjaannya saya hanya bisa berdecak kagum. Pemiliknya memiliki selera yang luar biasa dan sabar mengerjakannya. Pukul 5 sore kami semua kembali ke terminal F melakukan boarding untuk keberangkatan berikutnya. Akan tetapi kami harus menunggu lagi selama dua jam karena pesawat yang kami tumpangi delay. Menghabiskan waktu dengan bercanda, bermain dan bernyanyi bersama adalah salah satu bentuk kebersamaan yang tidak akan kami lupakan. Benarlah, ada hikmah dari setiap peristiwa. Pukul 8 Malam, kami naik ke pesawat udara menuju Pontianak. Ada kegelapan di atas udara saat itu yang justru membuat semangat saya tetap bernyala. Pukul 9 malam waktu indonesia barat kami tiba di Bandara Supadio, Pontianak Kalimantan Barat. Disambut hangat oleh Panitia setempat yang telah lama menunggu dengan berbagai atribut Budaya Kalimantan. Unik! Dan seperti biasa, mata saya jelalatan untuk hal serupa ini. Kami langsung di antar ke Sekretariat Panitia IYD di Pontianak. Kami adalah kontingen terakhir yang tiba di Pontianak. Makan malam disediakan, otot direnggangkan dan bersiap untuk perjalanan berikutnya. Meskipun lelah mulai merajalela kami masih harus menempuh 6jam perjalanan lagi menggunakan Damri menuju Beduai, Paroki dimana kami akan melaksanakan Live In. Luar biasa, ternyata sudah ada dua orang kawan yang langsung dari Paroki Beduai datang menjemput kami. Wina dan Ivo. Sambil menyelesaikan makan malam, Name tag dan Buku Acara untuk peserta dibagikan. Pukul 11 Malam Waktu Pontianak tentu saja, Damri yang memuat kontingen kami meluncur menuju Beduai. Perjalanan berlangsung aman terkendali, diselingi gelak tawa kawan-kawan yang sepertinya belum lelah juga. Dan waow, sungai Kapuas. Mungkin pekat malam tidak dapat menyuguhkan komposisi yang diharapkan mata akan tetapi melihat pantulan cahaya lampu pada pinggiran sungai yang cukup ramai, tak ayal hati bergumam kagum. Panjang dan lebar, selebar jembatan yang kami lewati.
Malam panjang ini pun di mulai di Batang Tara. Sebuah Paroki yang termasuk dalam Keuskupan Sanggau juga. Yang di pagari sebuah bukit dan dihiasi hijau rumput serta dedaunan belaka. Dingin malam yang pekat membuat saya harus keluar dan membuang air terlebih dahulu. Saya dan semua kawan-kawan berpikir ini hanyalah perhentian sementara meskipun pak sopir dan kernetnya sudah mulai ragu dan mengeluh bahwa Mesin tidak bisa di ajak kompromi alias mogok. Kurang lebih satu jam kami berhenti dan mengunyah jagung, pisang, pie susu bekal dari Pontianak sementara kawan-kawan pria bersama pak sopir berusaha memperbaiki kondisi Damri dengan mendorongnya beramai-ramai. Tak ada perubahan yang menjamin. Di Beduai para calon orang tua angkat kami, umat dan Pastor Paroki sudah tak sabar menanti. Berkali-kali handphone Wina berdenging, menyatakan kerisauan yang sangat. Hingga pukul 1 Malam, Damri tetap tidak bisa dijalankan. Gerimis dan tanah basah menemani kami semua, gilaaaa ini pengalaman paling gilaaaa seumur hidup saya. Dini hari WAKTU INDONESIA BARAT, mengalami macet dan mogok bersama kawan-kawan Laskar IYD Keuskupan Denpasar, dalam perjalanan menuju Sanggau yang tentu saja berada di salah satu titik di PULAU KALIMANTAN. Mahallllll Gilaaaaa!!! Dengan apapun semua letih dan kebahagiaan ini tak akan terbayar dan berlaku sekali ini saja seumur hidup \m/
Kami sempat mendaraskan satu peristiwa kontas (Rosario) dipimpin oleh Nona (FX. Kuta), Pak sopir sudah pasrah dan Wina akhirnya menyerah kemudian menyarankan kita untuk menginap saja di Paroki terdekat yang ternyata SANGAT DEKAT dari tempat Damri yang kami tumpangi mogok. Pastor Paroki Batang Tara mempersilahkan kami dengan murah hati bergabung bersama kawan-kawan peserta IYD dari Purwekerto yang ternyata akan mengadakan Live In di Paroki tersebut.
Gelap masih memekat di penghujung malam, sebentar lagi akan tiba pagi. Beberapa teman peserta sudah pulas terlelap karena raga yang tak lagi mampu bertahan, satu dua kawan masih bercerita sambil berbisik-bisik. Saya masih dipijit Frans (Palasari) karena seperti biasa, saya mudah terserang masuk angin apalagi dingin yang sangar ini membuat saya lemas tak bersemangat. Pukul 3 dini hari barulah saya terlelap dan bermimpi sedikit aneh tapi yah sudahlah itu akibat dari kelelahan yang total.

Sunday, November 25, 2012

Judas!

Sekali waktu, aku pernah memergokinya
Menikmati segalaku, tepat di ujung mataku
Entah apa yang berkecamuk di kepalanya
Apakah aku cukup memikat sehingga membuatnya terpaku
Bahkan menjadi penghuni kepalanya untuk sepersekian waktu
Saat mata kami serentak beradu, Pandangannya pun berlalu
Seperti Judas yang mengkhianati Guru
Ku lihat Ia terdiam penuh kerisauan, apa yang baru saja berlaku?
Yang aku tau, kemudian dia meninggalkan semua-ku dengan luka menganga

Bandar Udara International Ngurah Rai. 20.10.12
Loket Check In GA 407~